DELAPAN KEAJAIBAN DUNIA 
Keputusan si “sayah

Hari yang begitu cerah untuk delapan lebah yang selalu memulai hari dengan niat untuk mencari madu, itulah kami. Wait...wait... belum sampe sini alurnya, pendahuluan dulu atuh. Oke, sebelumnya mohon maaf para pembaca sekalian, sayah mendapatkan nilai C untuk mata kuliah Bahasa Indonesia πŸ˜₯, so I’ll tell the story informally, is that ok???
 Sebenernya kita bukan lebah beneran kita itu delapan perempuan yang terlahir di tempat berbeda, dari ibu yang berbeda, oleh bidan yang berbeda.  Eittzzzz  hampir lupa di antara kita hanya kelahiran sayah yang tidak dibantu bidan tapi ‘ma beurang’ atau bahasa uiversalnya ‘dukun beranak’. Menurut  teman-teman, sayah agak sedikit berbeda, mungkin aura dukun beranak yang membuat sayah agak sedikit unik dari 7 personil yang lain. Misalnya, iseng makan lollipop yang dibubuhi saus cabe atau makan pisang goreng pake sambel kacang, ditambah suka emosi gak jelas kalau liat orang pake baju kuning di siang bolong. Tapi tolong ditelaah lagi, sebenarnya bukan sayah yang aneh tapi kombinasi antara lolipop dan saus cabenya yang aneh, setuju?Hehehe😁 . Ya sudahlah, yang pasti sayah manusia normal yang lahir di bumi bukan di planet Pluto (masih ada ga sih di peredaran??) atau Nebula 88 (planetnya Ultraman) atau Krypton (planetnya Superman) dan sayah harus segera memulai cerita ini pada jam, menit, detik, dan milidetik ini juga.
Diawali dari sebuah kemauan yang muncul tanpa latar belakang, tujuan, dan metodologi yang jelas, sayah yang bernama Saki, anak ketiga dari lima bersaudara berkeinginan untuk bersekolah SMA di sebuah pondok pesantren. Dukungan 150% sayah dapatkan dari pihak keluarga, akan tetapi  protes pun datang dari 5 orang anggota PPSCMSM (Persatuan Pren Saki kec.Cisarua yang Macet Sabtu Minggu) 😎. Kubu pro beranggapan bahwa keputusan sayah masuk pesantren merupakan pilihan yang puuuaaaaling tepat karena sayah cukup vulnerable untuk menjadi liar 😁. Sedangkan kubu PPSCMSM beranggapan bahwa dengan prestasi sayah yang lumayan bisa dibanggakan (bukan sayah loh yaa yang ngomong), SMA Negri favourit merupakan pilihan yang lebih baik untuk sayah dibandingkan dengan pesantren. Jujur sebenarnya sayah juga bingung mengapa ‘pesantren’ bisa terlintas dan tertanam di pikiran ini (pake P atau F sih? Maklum saya Sunda aseli 😁 ), satu yang sayah yakini ini merupakan suatu petunjuk dari Allah untuk masa depan yang T.E.R.B.A.I.K.
Beberapa hari sebelum keberangkatan menuju pesantren, kegiatan sayah  di rumah hanya melamun, berfikir, dan terus berusaha untuk membayangkan bagaimana kehidupan pesantren, karena menurut berita yang beredar kehidupan pesantren sangat keras bak pelatihan militer, rakyatnya atau yang disebut ‘santri’ dikenal kurang gaul dan berwawasan luas kalau kata anak jaman now sih disebut kudet alias kurang update, dan satu lagi ‘malnutrisi mata’ akan menjadi syndrom yang dialami para santri karena retina mata yang kurang terekspose pemandangan lawan jenis πŸ˜„, dan masih banyak kabar-kabar mengerikan lainnya yang mendorong sayah untuk menarik keputusan. Tetapi itu  sudah tidak mungkin terjadi, karena lusa adalah hari di mana sayah harus meninggalkan ‘Home Sweet Home’ menuju Holy Jail.

Komentar