First Day in Holy Jail
Hari pertama di pesantren yang sayah lakukan hanya
berdiam menatap kasihan lemari yang begitu imutnya dirasuki oleh berbagai macam perlengkapan dan persenjataan sayah, dan lebih tragisnya lagi lemari yang
‘imut’ ini malah memuntahkannya kembali 😳, “Nya entos lah (Ya udah lah) barang-barangnya disimpen
di keranjang aja” nenek sayah berkomentar,” ya udah atuh nanti kamu beli keranjangnya
sendiri ja ya! Soalnya udah malem ibu mau pulang” Ibu menambahkan. JELEGEEEEEERRRRRRRRRRRR☈ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ perkataan
ibu langsung menyambar hati dan berimplikasi pada berairnya mata dan juga hidung. Sayah bukan seseorang yang cengeng, tetapi tidak hari ini, benteng pertahanan runtuh seketika, hati yang kurang berperasaan berubah 180˚³ ( seratus delapan puluh derajat KUBIK ) menjadi seseorang yang
sangat perasa dan melankolis. Ingin rasanya sayah berteriak melontarkan segala
alasan agar keluarga tidak pulang seperti, “Bu beli keranjangnya sama ibu
aja, kalau sama sayah nanti harganya jadi 50 kali lipat”,atau “Bu keranjangnya
ibu aja yang beli, kalau sayah yang beli nanti berubah jadi baskom”, sepertinya harus diganti deh
modus ‘keranjang’ dengan hal lain karena tidak menampakkan efek yang signifikan. Oke sekarang
kita ganti alasannya, “Bu gak usah pulang sekarang soalnya kalau malem gak ada matahari” (😶 Ahhhh that's too stupid) , atau “Bu kan kalau malem
itu banyak jangkrik!” (??????? !!!) ahhh gak usah berlete-lete intinya adalah: “Bu
gak usah pulang karena nanti anakmu yang tiada duanya ini akan mengalami
depresi yang sangat luar biasa, homesick yang berkepanjangan, mogok makan
selama seper sekian detik ( maaf untuk para pembaca, dalam masalah makan tidak
ada toleransi. Setuju? ), kehilangan kesadaran sepenuhnya,
melakukan hal-hal bodoh yang tidak mungkin dilakukan seseorang yang pintar (maaf jika cerita ini mengandung faham narzisisme dan PDisme
dan isme-isme lainnya ), dan satu lagi akan adanya deraian air mata dari
seseorang yang tidak teraniaya”. Dan ternyata respon ibu sangat sesuai dengan ekspektasi, “ Ki, kamu udah gede jadi harus mandiri! biasanya juga kan kamu
jarang di rumah keluyuran melulu jadi kamu biasa jauh-jauh dari ibu sama orang
rumah juga.”. Huaaaaahhhhhhh ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Tapi gak dengan cara yang kaya
gini juga bu.
Setelah berbagai argument yang sayah lontarkan untuk
menahan keluarga pulang, ternyata harus sayah hadapi juga kenyataan terpahit di
mana sayah harus menyaksikan mobil beserta isinya a.k.a keluarga pergi menjauh. Imajinasi liar sayah mulai muncul, dimana mobil yang terlihat menjauh tersebut seperti sedang bernafas lega dan tersenyum bahagia 😫 karena telah kehilangan beban yang sangat berat yaitu
‘sayah lengkap dengan atribut yang dibawa’.
Komentar
Posting Komentar